how to open blogspot on blackberry

Ngeblok adalah kebiasaan wajar bagi orang-orang yang doyan nulis. Ditammbah lagi dengan kemudahan akses dalam menumpahkan isi pikiran. Namun apa jadinya jika ide-ide keburu hilang gara-gara lambat menuliskannya?

Perkembangan teknologi sekarang memungkinkan mereka-mereka yang doyan ngeblog. Salah satunya adalah memasang aplikasi wordpress di smartphone. Bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur menulis di blog lain? Blogspot misalnya.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa blackberry, atau pun official blogspot belum ada yang menciptakan aplikasi blogspot untuk smartphone. Entah apa alasannya. Lalu saya coba buka blogspot di BB tipe 9700, dan hasilnya nihil. Awalnya berhasil masuk ke menu login google account, namun kemudian muncul halaman baru yang bertuliskan ‘click here to continue’. Setelah berulang-ulang kali diklik, hasilnya tetap sama dan kembali ke halaman yang sama. Belum ada cara untuk membuka blogspot di blackberry. Cara praktisnya adalah menuliskannya di wordpress, lalu export ke blogspot lewat PC. Cukup mudah dan praktis bagi para pencari ide, tulis dulu, upload nanti.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Diklat Teknis Transportasi Tk. Dasar

Pada dasarnya, diklat ini diadakan untuk menjelaskan dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dasar tentang dasar-dasar transportasi, sarana dan prasarana transportasi, hukum dan perundangan, sdm, pengumpulan data dan informasi transportasi. Cukup menarik memang, banyak hal-hal baru di sini.

Hari pertama diberikan perjelasan tentang Dinamika kelompok. Dan ini sangat menarik buat saya, mengingat pelajaran di sini lebih ke interaksi antar sesama peserta. Yang mana ini dapat mencairkan suasana yang kaku pada awal pertemuan. Sehingga tercipta komunikasi antar peserta. Dan itu sangat penting menurut saya.

ini contoh praktek pelajaran tentang singkrosisasi/ menyelaraskan antara ucapan dan tindakan. Ilmu psikologis yang bagus.

Posted in Just Oret-Oret | Leave a comment

PRACTICING MIND ~mastering any skill or chalange by learning to love the process~

Introduction

Kedamaian dan kepuasan yang sesungguhnya dalam hidup datang dari kesadaran kita yang menyadari bahwa hidup selalu dipenuhi oleh proses. Yang mana itu seperti menyusuri jalan untuk menemukan pengalaman-pengalaman baru yang tidak terduga.

Melatih pikiran adalah tentang bagaimana mengingat apa yang telah anda ketahui pada tingkat tertentu dan membawa ingatan itu ke masa sekarang, yang mana akan membawa bekal pada jalan yang anda lalui, juga memperkuat posisi anda sekarang. Buku ini akan memperkenalkan kembali tentang proses-proses apa saja yang telah dilalui untuk mendapat sebuah proses keterampilan yang belum anda ketahui, juga buku ini akan mengingatkan anda kembali tentang kehidupan anda sendiri yang merupakan sebuah pelatihan yang panjang. Sebuah upaya tanpa henti untuk memperbaiki tindakan, baik itu fisik dan mental, yang mengisi hari-hari kita.

Kita semua mengerti bahwa aktivitas-aktivitas seperti belajar bermain alat musik dan meningkatkan kemampuan mengayunkan stik golf, adalah ketrampilan (skill) yang memerlukan latihan rutin. Fakta bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan yang memerlukan dan bahkan memaksa kita -disadari atau tidak- untuk menguasai ketrampilan satu demi satu. Kita dengan mudahnya melupakan hal-hal ketika masih bayi, bagaimana cara berjalan, belajar menyampaikan maksud dan perasaan, yang mana itu semua diawali dari kondisi “tidak bisa apa-apa”. Didorong oleh keingingan dan kebutuhan, kita menguasai ketrampilan ini, belajar melangkah, mengenal bunyi, dan itu semua dilakukan tanpa beban.

Di dunia kita sekarang yang serba cepat dan¬† persaingan yang semakin ketat, kita mengenal kata “skill”-keterampilan- untuk menentukan aset seseorang; contohnya, kita dapat mengatakan, “Saya belum punya ketrampilan untuk mengerjakan itu.” Pada saat yang bersamaan, kita mengakui bahwa memiliki banyak ketrampilan adalah hal yang sulit. Ironisnya, meskipun tanpa disadari, kita telah kehilangan satu hal penting, yaitu kemampuan untuk mengembangkan ketrampilan secepat mungkin, dengan sedikit usaha, dan bahkan dengan proses yang tanpa disadari dan menyenangkan, kita telah melewati pengalaman itu dengan sukacita. Dan itu sesungguhnya adalah ketrampilan itu sendiri, yang mana memerlukan latihan latihan yang berkelanjutan, kemudian membentuk sebagian dari kita yang sekarang.

 

Ketika kita berusaha menggeluti dan berfokus pada proses perjalanan kehidupan, apakah kita bekerja karena kemauan, atau apakah kita bekerja karena terhimpit waktu, kita sebenarnya sedang memulai untuk membebaskan diri kita dari stress dan gelisah yang disebabkan oleh pikiran “aku tidak bahagia jika aku belum mencapai sasaran.” Yang dimaksud ‘sasaran’ di sini adalah suatu tempat yang belum kita capai, sesuatu yang belum dimiliki, namun kita percaya itu akan menjadi bagia dari kehidupan kita.

 

Ketika kita secara perlahan mengubah, ‘mencapai sasaran’, dengan ‘berfokus dan menikmati proses dari pencapaian’, kita telah mendapatkan ketrampilan baru. Dan sekali bisa, itu akan melekat selamanya.

 

Kita mendeskripsikan itu, yang mendemonstrasikan ketrampilan ini sebagai kepemilikan semacam kualitas yang terdiri dari kedisiplinan, fokus, kesabaran, dan kesadaran diri, dan juga kita mengakui sikap itu semua sebagai bagian penting yang terjalin satu dengan lainnya, yang nantinya membuahkan rasa damai dan kepuasan hidup. Tanpa itu, kita adalah korban dari ketidakfokusan kita, juga dari usaha, keinginan dan arah yang berubah-ubah.

 

The Practicing Mind, membantu anda memahami dan mengembangkan ketrampilan alami anda yang sebenarnya. Juga untuk menjelaskan bagaimana budaya kita tinggal, secara terus menerus memicu untuk menentang keadaan. Buku ini adalah tentang bagaimana belajar menjalani hidup di masa sekarang, dan menjadi terorientasi pada proses yang secara ajaib membawa  kita menjadi penyabar untuk menerima diri sendiri dan belajar menikmati perjalanan hidup.

Posted in terjemahan | Leave a comment

EJAAN

Tanda untuk menyatakan bunyi bahasa disebut huruf, sedangkan aturan-aturan yang menyatakan bagaimana huruf-huruf harus dipakai untuk menyatakan bunyi dalam bahasa tulisan disebut ejaan.

Bahasa Indonesia yang berkembang berdasarkan Bahasa Melayu telah mengalami beberapa kali perubahan ejaan, dimulai dengan ejaan Van Ophuysen sampai akhirnya Ejaan Yang Disempurnakan, yang berlaku sejak tahun 1972.

Dalam kenyataannya, hingga sekarang ini, walaupun pedoman dalam pemakaian bahasa dalam pers yang disetujui bersama dalam Karya Latihan Wartawan PWI Pusat, akhir 1978, dinyatakan “Wartawan hendaknya secara konsekuen melaksanakan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan”, (pasal 1), terdapat kelainan-kelainan terhadap ketentuan-ketentuan EYD, yang kiranya perlu mendapat tanggapan. Sebab kenyataannya masih terjadi “pelanggaran” –dapat disebut penyelewengan Pedoman EYD– dalam pers Indonesia.

Masalah ejaan bukanlah merupakan tolak ukur menentukan tingkat kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan tulis seseorang. Namun masalah ejaan ada kaitannya dengan masalah mentalitas.

Mengenai kelainan-kelainan terhadap ketentuan-ketentuan Pedoman EYD perlu ada tanggapan. Gejala-gejala kelainan ini memang bukan sebagai pembangkangan terhadap ketentuan-ketentuan pedoman EYD, tapi tidak dilebih-lebihkan kalau dikatakan. Tidak ada satu koran pun yang konsekuen melaksanakan pedoman EYD. Juga tidak Televisi Republik Indonesia, media massa pemerintah resmi yang audio visual yang acap juga menampilkan tulisan.

Maka tentu timbul pertanyaan : Mengapa?

Salah satunya karena kelalaian dan kecerobohan, untuk itu diperlukan ketelitian dan memperdalam tentang pedoman EYD. Yang kedua adalah karena kebiasaan yang kian lama kian meluas. Perlu adanya tanggapan yang lebih khusus, terutama Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang punya reduplikasi, sedangkan bahasa-bahasa barat tidak. Demikian juga terhadap perangkaian kata yang ditulis satu kata maupun yang memakai garis tanda hubung. Di samping itu kata-kata dengan bentuk kembar, bukan saja kembar dua atau kembar tiga malahan sampai kembar empat.

Sebagai contoh, Pedoman Umum Pembentukan Istilah menyatakan teknik, tapi sama banyaknya orang menulis tehnik, termasuk lembaga-lembaga pemerintah.

Adalah ideal untuk memiliki pedoman keseragaman menuliskan nama-nama negara di seluruh dunia, berdasarkan penggunaan huruf-huruf menurut EYD. Paling tidak, seyogyanya ada sikap yang konsisten dalam menuliskan nama-nama negara.

Suatu kebiasaan internasional bahwa setiap bahasa mempunyai sistem penulisan nama-nama negara sendiri, yang bisa jadi saling berbeda, seperti halnya menyebutkan nama-nama negara itu. Indonesia dalam Bahasa Belanda Indonesie, dalam Bahasa Inggris kebetulan sama dengan kita Indonesia, tapi dalam Bahasa Polandia, Indonezja, sedangkan dalam Bahasa Prancis menjadi Indonesia, dan dengan bahasa-bahasa lain mungkin berbeda-beda lagi. Orang Belanda menulis sesuai dengan penggunaan huruf dalam ejaan Bahasa Belanda Tsjechoslowakije, yang sangat berbeda dengan sistem penulisan Bahasa Inggris Czechoslovakia, sedangkan kita sendiri untuk penggunaan EYD menulis Cekoslowakia. Dulu menurut ejaan Republik Tjekoslowakie dekat ke ejaan Belanda, sedangkan sekarang menurut EYD dekat dengan ejaan Inggris. Adanya nama-nama kembar jelas tidak memberikan kesan yang baik tentang penggunaan ejaan bahasa nasional kita.

Di sini dikemukakan beberapa contoh tentang nama negara Indonesia berbeda-beda seperti Siria-Syiria-Suriah, Inggris-Inggeris, Muang Thai-Thailand, Arab Saudi-Saudi Arabia, Rumania-Romania, Philipina-Filipina-Philippina-Filippina. Jumlah ini dapat ditambah dengan banyak nama lagi.

Suatu hal yang mewabah akhir-akhir ini ialah penulisan nama-nama Cina dengan penulisan huruf latin cina tetapi dengan pengucapan Bahasa Indonesia, yang ada kalanya jauh berbeda. Demikian Beijing dan Deng Xiao Ping diucapkan oleh Indonesia berbeda dengan orang cina. Bahwa orang Inggris atau orang Amerika menurut siaran radionya masing-masing juga mengucapkan demikian, bukanlah alasan bagi kita untuk menurutinya.

Mengucapkan Beijing menurut pengucapan ejaan Bahasa Indonesia, yaitu b seperti babu dan j dalam jajan, samalah dengan menyetujui orang Cina mengucapkan nama Panggabean;Pangkapean dan Daud Yusuf; Taud Cusuf, karena dalam bahasa cina resmi tidak ada konsonan b, g, d, j, yang kita gunakan dalam ejaan Bahasa Indonesia. Dan mengapa pula kita berturut-turut menuliskan Mao Ze Dong dan mengucapkan z seperti z dalam air zamzam, dan d dalam kedondong, sedangkan pedoman EYD menentukan menuliskannya (dan mengucapkannya) Mao Tse Tung?

Adalah wajar jika kita menuliskan nama terutama nama negara sesuai dengan ejaan dan pengucapan yang kita gunakan dalam bahasa kita. Karena huruf c dalam bahasa kita menurut EYD dibunyikan jauh sekali berbeda dengan k maka sudah sewajarnya negara yang menggunakan c diubah dengan k. Bukankah nama America sejak dulu kita ganti dengan Amerika? Membiarkan penggunaan c untuk nama negara-negara yang diucapkan k, hanyalah membawa orang Indonesia kepada pengucapan yang salah.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

MEMAHAMI PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

Wartawan tidak memerlukan banyak teori bahasa, karena mereka bukan dipersiapkan untuk mengikuti acara diskusi bahasa, tapi untuk meningkatkan keterampilannya, maka ia memerlukan pengetahuan praktis, pengetahuan bahasa, dan penguasaan tentang alat-alat dan sarana-sarana bahasa. Jadi tidak perlu diajarkan tata bahasa secara khusus pada para wartawan. Bagaimanapun mereka tahu tata bahasa, karena paling tidak pernah belajar tata bahasa di sekolah lanjutan atas.

Dalam kenyataannya sebagian besar anggota masyarakat kita terbiasa menggunakan bahasa tanpa didahului belajar tata bahasa. Tapi seorang calon wartawan yang menggunakan bahasa sebagai alat di ladang kerjanya, meski menguasai teknik alatnya, teknik bahasa, termasuk di dalamnya tata bahasa, alat-alat perangkat bahasa.

Seorang tukang becak misalnya, tidak memikirkan dan tidak perlu memikirkan apa fungsi akhiran –an dalam setoran hariannya, yang tiap hari dipikirkannya. Karena hal itu tidak ada relevansinya dengan pekerjaannya menggenjot becak siang dan malam. Tapi seorang wartawan, walaupun tidak harus hapal apa fungsi dan arti akhiran –an, ia harus tahu fungsi dan arti akhiran –an yang digunakan dalam tulisan, agar penggunaannya tepat. Bukan karena berdasarkan kebiasaan saja, tetapi bahwa dengan pengetahuan yang dimilikinya itu dia dapat mengembangkan keterampilan berbahasa yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan potensi karyanya.

Bahasa lisan dan tulisan memiliki syarat-syarat yang berbeda. Bahasa tulisan dilakukan dengan bantuan intonasi, gerak dan situasi yang dapat dimanfaatkan oleh bahasa lisan.

Dalam tulisan kita hanya dapat menggunakan satu sistem kata-kata konvensional, yang berdasarkan sistem konvensional itu pula, dapat dijadikan kalimat. Karena dalam bahasatulisan dikehendaki adanya ketelitian, konstruksi kalimat yang logis, kemampuan memilih kata serta pembentukan kalimat yang tepat. Karena itu diperlukan pengetahuan dan penguasaan tata bahasa agar dapat menggunakan seperangkat alat bahasa itu secara efektif. Ini berbeda dengan orang yang hanya terbiasa menggunakan bahasa yang baik dan benar namun tidak mampu memanfaatkan alat-alat perangkat bahasa itu dengan sebaik-baiknya untuk menyatakan pikiran dan perasaan kalimat secara tepat dan menarik.

Menulis adalah menyatakan pikiran dan perasaan dengan bahasa di atas kertas, atau bahan lain yang dapat digunakan. Hanya sedikit orang yang tidak memiliki kemampuan (bakat) untuk menulis. Menulis adalah keterampilan yang bisa didapat melalui latihan, dan ditingkatkan dengan praktek.

Bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang sesungguhnya berasal dari Bahasa Melayu. Ada perbedaan antara Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang berdasarkan Bahasa Melayu, tetapi tidak semua Bahasa Melayu. Politik bahasa pemerintah kolonial memang mempertentangkan Bahasa Melayu dengan bahasa persatuan ini, tidak menghendaki adanya bahasa persatuan.

Bahasa Indonesia yang berdasarkan Bahasa Melayu ini bukan merupakan semacam monopoli orang seberang. Dalam hal ini bukan orang Sumatera saja yang berhak menentukan tolak ukur bahasa persatuan kita. Dan bahwa bahasa persatuan dengan bahasa daerah tidak perlu dipertentangkan, masalah bahasa daerah berfungsi baik sebagai tanah pembiakan bahasa persatuan, telah sama-sama kita akui.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENGANTAR BAHASA INDONESIA

Bahasa jurnalistik, termasuk di dalamnya kalimat jurnalistik, mencakup 3 aspek :

  • Penguasaan materi (isi) yang dikemukakan
  • kalimat dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  • Teknik Penyajian

Ketiganya adalah aspek yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Meskipun demikian, bahasan ini membatasi diri pada “kalimat dalam Bahasa Indonesia yang baik dan yang benar’

Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu, bagaimana?

Ada dua perangkat norma bahasa yang bertumpang tindih. Yang satu berupa norma yang dikodifikasi dalam bentuk tata bahasa di sekolah, yang lain norma berdasarkan kebiasaan pemakaian. Norma yang terkhir ini belum dikodifikasi secara resmi, antara lain yang dianut oleh kalangan media massa (wartawan) dan sastrawan muda, terutama dalam pers.

Sekaligus diakui posisi yang berbeda dari kaum guru di satu pihak, dengan kaum wartawa dan satrawan di pihak lain, yang menghasilkan dua perangkat norma nahasa yang dikemukakan di atas. Perbedaan posisi, bukan pertentangan, walaupun dalam sejarah perkembangan Bahasa Indonesia kita sempat melihat adanya sifat knfrontatif antara kaum wartawan dengan kaum guru.

Guru mengkualifikasikan bahasa surat kabar, bahasa yang digunakan oleh surat kabar adalah bahasa kacau, sedangkan para wartawan mengnggap para guru tidak atau kurang mau mengerti perkembangan bahasa, dan terpaku pada kaidah-kaidah bahasa yang sudah ketinggalan jaman.

Perbedaan posisi ini perlu disadari. Bahwa kaum guru pada posisinya menjadi secama polisi tata tertib lalu lintas bahasa, mengajarkan aturan-aturan yang sudah baku. Yang berlainan dengan itu, dus yang tidak baku, harus ditolak. Sebab yang belum baku belum tercantum dalam buku tata bahasa. Suatu hal yang tentunya harus diberlakukan di sekolah.

Berdasarkan posisinya wartawan dan sastrawan bisa dimengerti kalau sampai melakukan semacam “pelanggaran” tertib lalu lintas bahasa, menurut situasi. Tetapi dengan catatan bahwa wartawan dan sastrawan itu harus menguasai kaidah-kaidah bahasa, justru karena dia merasa adanya keterbatasan yang tidak memungkinkan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran secara efektif, dia terpaksa “melanggar” ketentuan resmi dalam buku tata bahasa.

Kalau para wartawan dianggap oleh para guru acuh tak acuh pada ketentuan tata bahasa, seenaknya saja menulis, kaum sastrawan ada kalanya menganggap tata bahasa terlalu mengekang daya cipta. Kelihatannya diam-diam antara wartawan dan sastrawan terbentuk semacam persekutuan yang mungkin disebabkan karena bekerja di ladang yang sama, yaitu dunia tulis menulis. Namun bukan tidak ada perbedaan antara bahasa sastrawan dan bahasa wartawan.

Dalam bahasa dan terutama dalam dunia kepenyairan, orang berbicara tentang licentia poetica, kebebasan penyair. Dan kebebasan hanyalah layak diberikan kepadanya, setelah ia mengetahui potensi, kemampuan, sarana dan alat bahasa yang ada. Jadi, bukan karena sok kehebatan, anarki sok kebebasan, anarki atau kompleks tuna diri karena tidak tahu bahasa bahasa.

Hal ini perlu dikemukakan dan dipahami, karena media massa, khususnya koran mempunyai peranan dalam menentukan nasib bentuk-bentuk bahasa baru. Sejalan dengan ini, tujuan utama mempelajari tata bahasa seyogyanya adalah demi peningkatan penggunaan alat-alat bahasa serta penguasaan bahasa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Manajemen dan Psikologi

Memang sulit jadi seorang manajer. Tugas yang diemban tak bisa dianggap remeh. Mungkin bagi sebagian orang memandang manajemen itu hanyalah soal mengatur. Namun pada implementasinya, mengatur saja tidak cukup. Ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan. Psikologi ternyata sangat diperlukan.

Apa yang membuat sisi psikologi penting di dalam manajemen? Saya, belum bisa menjelaskan apa peranan psikologi. Tapi, ada yang harus dicari tahu.

Cafe Bisnis Online

Posted in Sekedar Info | Leave a comment